Minggu, 11 September 2011

Reuni Dua Bajingan

Reuni Dua Bajingan - oleh Editor Hari ini kami janji mau reuni. Sudah bertahun-tahun kami tak bertemu dan tentunya ada kangen yang menggasak dada, menyuruh bertemu lagi. Aku menunggunya di sebuah kedai dengan lampu hampir padam. Duduk di meja paling pojok sambil membasahi rokok yang terus menerus kumasukkan ke mulutku. Sambil menunggu, aku coba-coba tulis puisi. Tapi tak pernah jadi. Aku gonta-ganti judul dan berusaha bernegosiasi dengan setiap lembar kenangan yang masih kubuka-buka dalam hayalku. Sesekali kepalaku bergoyang mengikuti alunan swing lembut yang diputar pemilik kedai. Seleranya boleh juga. Dari jauh, roda kereta api menggesek relnya yang berahi. Apakah kereta itu membawa yang kutunggu? Sudah berapa lama aku menunggunya? Setahun? Dua tahun? Tiga tahun? Atau selamanya? Entah. Aku tak memikirkan soal waktu karena waktu tak pernah memikirkanku. Aku hanya memikirkannya, menunggunya. Aku merancang reuni ini terlebih untuk diriku sendiri. Aku tak pernah begitu mengerti soal 'pertemuan kembali'. Jadi tak salah kalau aku menjajal dengannya. Apakah ini akan berakhir di tempat tidur seperti dulu aku juga tak pernah mau peduli. Yang penting aku bertemu lagi dengannya. Lalu aku melihat dia, berjalan menuju arahku. Badannya masih tetap ramping dan tegap. Dadaku masih berdesir, seperti dulu. Dia memang selalu begitu, membawa segala ekstase bersamanya bahkan ketika dia berjalan. Dia mencium pipiku, hampir menyentuh bibirku. Kurang ajar! Tapi aku suka. Dia juga tertawa. Matanya menggerayangiku. Mencabik-cabik rambutku yang sudah termakan siang, kancing kemejaku yang terlepas di bagian dada, dan belahan rok yang mengumbar paha. Aku tampar pipinya lembut. Kamu masih saja jalang. Tapi dia cuma terbahak dan bilang kalau aku masih saja pintar. Aku tersipu, terbodoh-bodoh. Aku tahu maksudnya, dia suka caraku menyembunyikan tubuhku. Aku juga suka caranya memperlihatkan tubuhnya: begitu ditutup-tutupi. Dia pakai jaket yang dikancing sampai leher, celana jeans yang dibelinya bersamaku bertahun lalu dan terlihat lapuk sekarang. Ah, kamu memang bajingan. Kamu juga bajingan, katanya. Kami berdua tertawa. Sambil menyeruput teh hangat, kami mengumpulkan kembali berkas-berkas ingatan masa lalu. Sepertinya ini biasa dilakukan oleh setiap orang saat reuni. Dan aku bosan. Masa lalunya terlalu menjemukan. Dia pacaran, pacaran, dan pacaran. Pacarmu terlalu banyak, aku pusing menghafal nama-namanya. Setelah itu dia menanyakan masa laluku. Aku tidak pernah pacaran lagi. Aku suka wajahnya yang kebingungan. Dahinya berkerut saat menatapku dan kuakui sangat sexy. Aku tak perlu berteori tentang cinta di hadapannya. Aku cukup mengerlingkan mataku yang sepat kena asap rokok dan kuharap dia segera mengerti atau kami cuma buang-buang waktu saja di sini. Dia tertawa lagi. Aku makin suka melihatnya ceria. Lalu aku minta maaf karena tak hadir pada pernikahannya. Dia hanya menggeleng pelan dan berkata tak apa. Dia beritahu kalau isterinya sedang hamil lima bulan dan aku terpekik pelan. Sekarang aku bisa mengerti mengapa dia begitu bahagia. Dulu kami berdua pernah sangat menginginkan anak, tapi niatan itu terkubur seiring langkahnya meninggalkanku. Semoga keberuntungan itu datang kepadaku lain kali. Dia bilang dia mau punya anak lima, dan aku menawarkan diri. Dia tertawa lagi. Aku cuma kasihan sama isterinya dan tak ingin rahimnya tersiksa begitu lama. Dia makin terbahak. Aku memandangnya puas-puas. Dia sudah mau jadi bapak. Sinead mengalun perlahan di dalam kedai. lost my heart, but what of it? he is cold, I agree he can laugh, but I love it Because the laugh's on me I'll sing to him, each spring to him And long for the day when I'll cling to him, Bewitched bothered and bewildered Am I? Runutan waktu mundur mendekati masa 'kita'. Dia terdiam lama dan mencoba mengembalikan beberapa ribu byte ingatan tentang sebuah waktu yang berlangsung sangat pendek. Aku cuma diam, tak bergerak, walau hatiku perlahan-lahan kembali meleleh bersama air mata yang tak pernah kutangisi lagi. Kedai ini makin remang, seremang pembicaraan ini. Apakah waktu 'kita' memang sudah tak ingin dikenali lagi? Apakah kita masih perlu meraba-raba dalam gelap sambil bertanya-tanya: pernah ada? Tapi dia cuma menjawab dengan satu kata maaf. Aku terkesiap. Begitu lama aku menyangka bahwa segala ingatan akan diriku padanya sudah tercampur bersama selimut kumal dan ceceran sperma. Mengapa ada maaf? Aku sudah tak menginginkan satu kata maaf darinya, jauh setelah aku tak lagi menginginkan kata 'cinta' dan 'sayang' yang buatku sekarang sudah jadi lukisan surealis hampir abstrak. Kata 'maaf' ini jadi seperti sampah. Dia menggenggam tanganku kemudian. Menyeretku pelan-pelan dalam tong sampah yang baru dibuatnya. Aku memandangnya getir, hampir tak bernyawa. Kata-katanya mengalir seperti air got. Tak bergerak dan bau. Aku meronta-ronta, berusaha mengembalikan segenap diriku ke asal. Tapi dia menyekapku terlalu kuat, sama seperti dulu. Dia membiarkan aku jadi rempeyek basi di tangannya. Dan aku tak percaya dia melakukannya di sini. Di kedai ini, di waktu ini, di diriku yang ini! Tak lama dia melepaskan genggamannya dan bening membayang di matanya. Membuatku terperangah lagi. Mengapa dia harus menangis? Mengapa dia begitu tega mengurungku di sini bersama melankolinya yang terlambat. Sampah! Sampah! Ah, kamu memang bajingan. Dia menatapku lekat dan berusaha membelaiku dengan caranya yang sayang. Kutepis tangannya karena aku tak pernah punya niatan untuk bunuh diri. Tanpa sadar aku berada dalam ketidak seimbangan. Bau busuk begitu menusuk dan aku hampir berjanji tak ingin datang ke kedai ini lagi. Aku oleng. Kucampakkan dia seperti kertas-kertas salah ketik di tong sampah yang dibuatnya tadi. Aku menulis puisi baru, cerpen baru, novel baru. Lalu aku bacakan di depannya keras-keras dan cepat. Dia mendengarkan tanpa jeda. Setelah aku selesai, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis. Dia tidak pernah menangis. Bahunya naik turun sesenggukkan. Iba terbit di dadaku. Tapi aku hanya menepuk-nepuk kepalanya pelan. Dia meracau. Menggenggam tanganku lagi lalu meracau. Ditaruhnya seluruh hidupnya di depan papan dart, dan diberinya aku jarum-jarum tajam. Aku tertawa. Tak kusangka dia begitu tolol. Tua dan tolol. Kutuang secangkir teh dan kuberikan kepadanya. Reuni ini sudah tidak ada gunanya lagi. Aku cuma seorang pelacur bertitel yang ingin bersenang diri, seorang bajingan cantik yang tak ingin menjadi yang pertama, kedua, ketiga atau terakhir. Aku tak ingin jadi apa-apa selain diriku yang ini. Kunyalakan rokok dan kutawarkan kepadanya. Masih ada bekas lipstikku di sana. Dia menjilatnya perlahan dan aku tersipu seperti Jonggrang. Dan sudah kuduga akhirnya, reuni ini berakhir di tempat tidur hotelnya. Aku terbaring dan menertawakan dunia yang merana. I'm wild again beguiled again a simpering whimpering child again bewitched bothered and bewildered am I?

aku, batu dan mutiaraKu

Aku, Batu dan Mutiaraku-- oleh cahayu Dikemas 16/10/2003 oleh Editor *Yang terjadi bukan fiktif. Hanya untuk yang tahu bagaimana memulai, membaca, membumi....... Aku sudah merunut waktu dari aku bangun pagi sampai tidur lagi. Melipat-lipat kenyataan yang terjadi sekedar untuk menyesali atau untuk seleksi pribadi. Tapi hari ini runutanku menemui jalan buntu.. Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam tiga butir batu. Batu pekat mengkilap. Hm, sepertinya aku tidak membawa batu ini dari mimpi. Aku hanya bermimpi menjadi ulat. Jadi..dari mana datangnya batu ini? Aku bertanya pada siapapun yang kutemui. Kutanya apakah mereka pernah memiliki batu seperti yang aku bawa ? apakah mereka kehilangan batu ? kutanya apa mereka pernah melihat batu yang berjalan sendiri kemudian mendekam manis di kepalan ? Kutanya apakah meraka pernah berteman dengan batu ? Mereka mencaciku ! mengatakan bahwa aku tak lebih dari mahluk bodoh yang terpukau dengan bualannya sendiri. Aku tertawa. Kubilang mungkin. Mungkin aku sedang terpukau tapi aku tak bodoh. Aku bukan batu. Mereka tak sadar mereka sendiri cukup bodoh karena tak mau mengakui keberadaan batu. Bukankah mereka terlihat lebih keras dari batu? Ya sudah. Aku pulang. Menemui ranjangku, berharap saat aku tidur batu itu akan kembali ke tempatnya semula atau bisa jadi tertarik ke mimpiku, atau ke dunia lain, mungkin. Sebelum terpejam, aku ucapkan selamat malam, selamat tinggal pada tiga batu itu. Lalu aku akan menunggu sampai aku menamatkan lelah. Pagi ini, saat aku terbangun, aku mendapati tanganku menggenggam sesuatu. Kupikir batu itu tak ingin pergi meninggalkanku. Sebelum kubuka mata, dengan kekuatan penuh, aku bertekad akan menjaga baik-baik tiga batu itu, menyayanginya dan merawatnya agar tak sampai terinjak oleh kaki-kaki yang tak pernah mau menatap ke bawah. Pagi ini, saat kubuka mata, kudapati tanganku bercahaya. Tak ada batu, hanya ada mutiara......

Sabtu, 10 September 2011

hikayat abu nawaas

Raja Dijadikan Budak Kadangkala untuk menunjukkansesuatu kepada sang Raja, Abu Nawas tidak bisa hanya sekedar melaporkannya secara lisan. Raja harus mengetahuinya dengan mata kepala sendiri, bahwa masih banyak di antara rakyatnya yang hidup sengsara. Ada saja praktek jual beli budak. Dengan tekad yang amat bulat Abu Nawas merencanakan menjuai Baginda Raja. Karena menurut Abu Nawas hanya Baginda Raja yang paling patut untuk dijual. Bukankah selama ini Baginda Raja selalu miempermainkan dirinya dan menyengsarakan pikirannya? Maka sudah sepantasnyalah kalau sekarang giliran Abu Nawas mengerjai Baginda Raja. Abu Nawas menghadap dan berkata kepada Baginda Raja Harun Al Rasyid. “Ada sesuatu yang amat menarik yang akan hamba sampaikan hanya kepada Paduka yang mulia.” “Apa itu wahai Abu Nawas?” tanya Baginda langsung tertarik. “Sesuatu yang hamba yakin belum pernah terlintas di dalam benak Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas meyakinkan. “Kalau begitu cepatlah ajak aku ke sana untuk menyaksikannya.” kata Baginda Raja tanpa rasa curiga sedikit pun. “Tetapi Baginda … ” kata Abu Nawas sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. “Tetapi apa?” tanya Baginda tidak sabar. “Bila Baginda tidak menyamarsebagai rakyat biasa maka pasti nanti orang-orang akan banyak yang ikut menyaksikan benda ajaib itu.” kata Abu Nawas. Karena begitu besar keingintahuan Baginda Raja, maka beliau bersedia menyamar sebagai rakyat biasa seperti yang diusulkan Abu Nawas. Kemudian Abu Nawas dan Baginda Raja Harun Al Rasyid berangkat menuju ke sebuah hutan. Setibanya di hutan Abu Nawas mengajak Baginda Raja mendekati sebuah pohon yang rindang dan memohon Baginda Raja menunggu di situ. Sementara itu Abu Nawas menemui seorang badui yang pekerjaannya menjuai budak. Abjj Nawas mengajak pedagang budak itu untuk mettrtat calon budak yang akan dijual kepadanya dari jarak yang agak jauh. Abu Nawas beralasan bahwa sebenarnya calon budak itu adalah teman dekatnya. Dari itu Abu Nawas tidak tega menjualnya di depan mata. Setelah pedagang budak itu memperhatikan dari kejauhan ia merasa cocok. Abu Nawas pun membuatkan surat kuasa yang menyatakan bahwa pedagang budak sekarang mempunyai hak penuh atas diri orang yang sedang duduk di bawah pohon rindang itu. Abu Nawas pergi begitu menerima beberapa keping uang emas dari pedagang budak itu. Baginda Raja masih menunggu Abu Nawas di situ ketika pedagang budak menghampirinya. la belum tahu mengapa Abu Nawas belum juga menampakkan batang hidungnya. Baginda juga merasa heran mengapa ada orang lain di situ. “Siapa engkau?” tanya Baginda Raja kepada pedagang budak. “Aku adalah tuanmu sekarang.” kata pedagang budak itu agak kasar. Tentu saja pedagang budak itu tidak mengenali Baginda Raja Harun Al Rasyid dalam pakaian yang amat sederhana. “Apa maksud perkataanmu tadi?” tanya Baginda Raja dengan wajah merah padam. “Abu Nawas telah menjual engkau kepadaku dan inilah surat kuasa yang baru dibuatnya.” kata pedagang budak dengan kasar. “Abu Nawas menjual diriku kepadamu?” kata Baginda makin murka. “Ya!” bentak pedagang budak. “Tahukah engkau siapa aku ini sebenarnya?” tanya Baginda geram. “Tidak dan itu tidak perlu.” kata pedagang budak seenaknya. Lalu ia menyeret budak barunya ke belakang rumah. Sultan Harun Al Rasyid diberi parang dan diperintahkan untuk membelah kayu. Begitu banyak tumpukan kayu di belakang rumah badui itu sehingga memandangnya saja Sultan Harun Al Rasyid sudah merasa ngeri, apalagi harus mengerjakannya. “Ayo kerjakan!” Sultan Harun Al Rasyid mencoba memegang kayu dan mencoba membelahnya, namun si badui melihat cara Sultan Harun Al Rasyid memegang parang merasa aneh. “Kau ini bagaimana, bagian parang yang tumpul kau arahkan ke kayu, sungguh bodoh sekali !” Sultan Harun Al Rasyid mencoba membalik parang hingga bagian yang tajam terarah ke kayu. la mencoba membelah namun tetap saja pekerjaannya terasa aneh dan kaku bagi si badui. “Oh, beginikah derita orang-orang miskin mencari sesuap nasi, harus bekerja keras lebih dahulu. Wah lama-lama aku tak tahan juga.” gumam Sultan Harun Al Rasyid. Si badui menatap Sultan Harun Al Rasyid dengan pandangan heran dan lamalama menjadi marah. la merasa rugi barusan membeli budak yang bodoh. “Hai badui! Cukup semua ini aku tak tahan.” “Kurang ajar kau budakku harus patuh kepadaku!” kata badui itu sembari memukul baginda. Tentu saja raja yang tak pernah disentuh orang iki menjerit keras saat dipukul kayu. “Hai badui! Aku adalah rajamu, Sultan Harun Al Rasyid.” kata Baginda sambil menunjukkan tanda kerajaannya. Pedagang budak itu kaget dan mulai mengenal Baginda Raja. la pun langsung menjatuhkan diri sembari menyembah Baginda Raja. Baginda Raja mengampuni pedagang budak itu karena ia memang tidak tahu. Tetapi kepada Abu Nawas Baginda Raja amat murka dan gemas. Ingin rasanya beliau meremas-remas tubuh Abu Nawas seperti telur. (SELESAI)

Minggu, 04 September 2011

http://share-ndoe.blogspot.com/2009/07/penyebab-dan-cara-mengatasi-insomnia.html

susah tdr

http://share-ndoe.blogspot.com/2009/07/penyebab-dan-cara-mengatasi-insomnia.html
tadi siang
masih jelas di pikiranku, masih hangat pula
baru kali ini saya mendapatkan ucapan terimakasih begitu tulusnya.
dia bilang terima kasih berkali-kali.
bahkan seoalah mau memanggul saya. pelukannya membuatku tak bisa gerak. lalu kuberi pula se botol air mineral. biarlah sebotol juga rejeki dia.
beneran tulus banget brother. sampai2 dia bilang pada saya, "anda tak benci kami kan". ya ampuuun terharu saya sob.
dalam keharuan aku berkata dlm hati, "kamu adalah putra bangsa, dan kamu berhak mendapatkan impianmu, jangan lelah menunggu rotasi nasib mu. kamu pasti bisa, betul kamu pasti bisa

Selasa, 30 Agustus 2011